Rabu, 14 Januari 2015

Agar Amal Tidak Sia-sia...


Ini adalah hadits yang menghebohkan. Karena menjelaskan hadits ini, KH Quraisy Shihab dicaci kaum Wahabi sbg sesat karena menyatakan Nabi tidak dijamin masuk surga karena AMALNYA. Padahal Nabi Muhammad SAW pasti masuk surga tapi karena RAHMAT ALLAH. Bukan karena AMALNYA (ini menurut hadits di bawah):

Dari Abu Hurairah, bahwa Nabi SAW bersabda: “Tidak ada seseorang yang dimasukkan ke surga oleh amalnya.” Lalu ada yang bertanya: “Tidak pula engkau wahai Rasulullah?” Beliau menjawab: “Tidak pula saya, kecuali Tuhanku melimpahkan rahmat-Nya kepadaku.” (HR. al-Bukhari [5673, 6463] dan Muslim [2816]).

Jika kita kaji lebih jauh, ternyata benar. Amal saja tidak cukup. Jika yang beramal saja bisa tidak masuk surga, apalagi yang tidak beramal. Coba kita kaji ayat2 Al Qur'an dan Hadits lainnya agar jelas. Jangan tergesa2 berhenti di sini.


Di dalam Al Qur'an berulang-kali disebut bahwa yang masuk surga adalah orang2 yang BERIMAN DAN BERAMAL SALEH:

“Orang-orang yang beriman dan beramal saleh, bagi mereka kebahagiaan dan tempat kembali yang baik.” [Ar Ra’d 29]

Baca selengkapnya di: http://media-islam.or.id/2013/03/07/beriman-dan-beramal-saleh/

Jadi Amal saja tidak cukup. Tapi harus AMAL SALEH. AMAL yang BAIK. Dan juga harus beriman.

”Orang-orang yang kafir kepada Tuhannya, amalan-amalan mereka adalah seperti abu yang ditiup angin dengan keras pada suatu hari yang berangin kencang. Mereka tidak dapat mengambil manfaat sedikitpun dari apa yang telah mereka usahakan (di dunia). Yang demikian itu adalah kesesatan yang jauh.” [Ibrahim:18]

Baca selengkapnya di: http://media-islam.or.id/2011/04/04/rukun-iman-6-perkara/

Allah tidak menerima iman tanpa amal perbuatan dan tidak pula menerima amal perbuatan tanpa iman. (HR. Ath-Thabrani)

Betapa banyak orang yang beramal, tapi tidak bisa masuk surga karena amalnya ditolak oleh Allah. Jadi harus hati2. Kita harus melakukan Amal Saleh dengan niat Lillahi Ta'ala. Ikhlas.

"Berapa banyak orang yang berpuasa, hanya mendapatkan lapar dan dahaga saja, dan berapa banyak orang yang mendirikan ibadah di malam hari, tapi hanya mendapatkan begadang saja."  (HR. Ahmad)

Sebagai contoh saat anak2 Nabi Adam, Habil dan Qabil berkurban, Allah menerimta kurban dari Habil karena ikhlas. Tapi menolak kurban dari Qabil karena dia tidak ikhlas.

"Ceritakanlah kepada mereka kisah kedua putera Adam (Habil dan Qabil) menurut yang sebenarnya, ketika keduanya mempersembahkan korban, maka diterima dari salah seorang dari mereka berdua (Habil) dan tidak diterima dari yang lain (Qabil). Ia berkata (Qabil): "Aku pasti membunuhmu!." Berkata Habil: "Sesungguhnya Allah hanya menerima (korban) dari orang-orang yang bertakwa." [Al Maa'idah 27]

Di Surat Al Ma'uun, ada orang yang sholat, tapi disebut Allah celaka. Fa wailul lil Musholliin. Celakalah orang2 yang sholat. Kenapa begitu? Itu harus kita pelajari agar amal kita tidak sia2. Yang sholat saja bisa celaka, apalagi yang tidak sholat. Langsung ke neraka... :)

"Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat" [Al Maa'uun 4]

Ada pula orang yang puasa, tapi tidak dapat pahala. Cuma dapat lapar dan haus saja. Atau sedekah, tapi tidak diterima sedekahnya oleh Allah. Jadi jangan sekedar beramal. Tapi harus ber AMAL SALEH.

Lihat bagaimana tanpa niat lillahi ta'ala, puasanya tidak diterima Allah: 
”Manusia dibangkitkan kembali kelak sesuai dengan niat-niat mereka” (HR Muslim)

Dari Hafshah Ummul Mukminin bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda: “Barangsiapa tidak berniat puasa sebelum fajar, maka tidak ada puasa baginya.” [Imam Lima]
Ibnu ‘Umar dan Hafshoh ra :
Siapa yang tidak berniat puasa dari malam hari maka tidak ada puasa baginya.” [Bukhari-Muslim]

Allah berfirman “Aku adalah yang paling tidak butuh kepada syarikat, maka barangsiapa yang beramal suatu amalan untuku lantas ia mensyerikatkan amalannya tersebut (juga) kepada selainku maka Aku berlepas diri darinya dan ia untuk yang dia syarikatkan” (HR. Ibnu Majah 2/1405 no. 4202,adapun lafal Imam Muslim (4/2289 no 2985) adalah, “aku tinggalkan dia dan kesyirikannya”).
”Dan (juga) orang-orang yang menafkahkan harta-harta mereka karena riya kepada manusia, dan orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan kepada hari kemudian. Barangsiapa yang mengambil syaitan itu menjadi temannya, maka syaitan itu adalah teman yang seburuk-buruknya” [An Nisaa’:38]
”Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan pahala sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti perasaan si penerima, seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riya kepada manusia dan dia tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian. Maka perumpamaan orang itu seperti batu licin yang di atasnya ada tanah, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, lalu jadilah dia bersih tidak bertanah. Mereka tidak mendapat apa-apa dari yang mereka usahakan; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir” [Al Baqarah:264]

http://mediaislamraya.blogspot.com/2012/06/niat-karena-allah-awal-dan-penentu.html

Pada 1 hadits yang panjang, Nabi Muhammad menjelaskan tentang Iman, Islam, dan Ihsan. IHSAN ini adalah kita beribadah kepada Allah seolah2 kita melihat Allah. Jika tidak mampu, kita harus yakin kita dilihat/diawasi oleh Allah. Nah dengan Ihsan inilah ibadah kita jadi punya nilai tambah. Bisa jadi Amal Saleh yang diterima oleh Allah.

Jadi dalam beramal/beribadah kita tidak boleh asal2an agar diterima Allah. Sholat misalnya harus khusyu dan ikhlas. Bukan sekedar melepas kewajiban.

Jangan sombong dan merasa yakin masuk surga hanya karena kita banyak mengerjakan "Amal Saleh". Belum tentu kita dapat Husnul Khotimah. Sebelum dilaknat Allah, Iblis sudah ribuan tahun beribadah kepada Allah. Kemudian ada orang yang nyaris seumur hidup mengerjakan amalan ahli surga, tapi masuk neraka karena tak mendapat Husnul Khotimah / Akhir yang baik.

Rasulullah bersabda: “Sesungguhnya setiap kalian dikumpulkan penciptaannya dalam rahim ibunya selama 40 hari berupa nutfah, kemudian menjadi ‘alaqoh (segumpal darah) selama itu juga lalu menjadi mudhghoh (segumpal daging) selama itu juga, kemudian diutuslah malaikat untuk meniupkan ruh kepadanya lalu diperintahkan untuk menuliskan 4 hal: rezeki, ajal, amal dan celaka/bahagianya. Maka demi Allah yang tiada Ilah selain-Nya, ada seseorang diantara kalian yang mengerjakan amalan ahli surga sehingga tidak ada jarak antara dirinya dan surga kecuali sehasta saja, kemudian ia didahului oleh ketetapan Allah lalu ia melakukan perbuatan ahli neraka dan ia masuk neraka. Ada diantara kalian yang mengerjakan amalan ahli neraka sehingga tidak ada lagi jarak antara dirinya dan neraka kecuali sehasta saja. kemudian ia didahului oleh ketetapan Allah lalu ia melakukan perbuatan ahli surga dan ia masuk surga.” (HR Bukhari}

Untuk itu hendaknya kita berdoa agar bisa mendapat Husnul Khotimah. Sebab doa bisa merubah takdir:

“Ya Tuhan kami, limpahkanlah kesabaran kepada kami dan wafatkanlah kami dalam keadaan berserah diri (kepada-Mu).” (QS. Al-A’raaf: 126)

Ada lagi orang yang sudah banyak mengerjakan amal saleh dan mendapat pahala, namun zalim terhadap sesama. Dia sakiti sesama manusia dengan lisannya atau bahkan dengan tangannya. Wah itu ahli bid'ah, wah itu sesat, wah ulama itu kafir fitnah mereka. Nah yang model begini bisa jadi di akhirat nanti jadi orang yang bangkrut:

Rasulullah SAW bertanya: Tahukah kamu siapa orang yang bangkrut? Para sahabat menjawab, “Allah dan rasulNya lebih mengetahui.” Nabi Saw lalu berkata, ” Sesungguhnya orang yang bangkrut dari umatku ialah (orang) yang datang pada hari kiamat dengan membawa amalan puasa, shalat dan zakat, tetapi dia pernah mencaci-maki orang ini dan menuduh orang itu berbuat zina. Dia pernah memakan harta orang itu lalu dia menanti orang ini menuntut dan mengambil pahalanya (sebagai tebusan) dan orang itu mengambil pula pahalanya. Bila pahala-pahalanya habis sebelum selesai tuntutan dan ganti tebusan atas dosa-dosanya maka dosa orang-orang yang menuntut itu diletakkan di atas bahunya lalu dia dihempaskan ke api neraka.” (HR. Muslim)

Baca selengkapnya di: http://media-islam.or.id/2013/02/01/bangkrut-rajin-ibadah-tapi-masuk-neraka/

Ada juga orang yang ternyata di akhirat dibangkitkan sebagai orang kafir karena terlalu "rajin" mengkafirkan sesama Muslim ternyata salah. Orang yang dia kafirkan ternyata masih bersyahadah dan sholat.

“Barangsiapa yang berkata kepada saudaranya “hai kafir”, maka ucapan itu akan mengenai salah seorang dari keduanya.” [HR Bukhari]
Dari ‘Abdullah bin ‘Umar Ra, bahwa Nabi SAW bersabda:“Bila seseorang mengkafirkan saudaranya (yang Muslim), maka pasti seseorang dari keduanya mendapatkan kekafiran itu. Dalam riwayat lain: Jika seperti apa yang dikatakan. Namun jika tidak, kekafiran itu kembali kepada dirinya sendiri”.[HR Muslim]
Dari Abu Dzarr Ra, Nabi SAW bersabda:“Barangsiapa memanggil seseorang dengan kafir atau mengatakan kepadanya “hai musuh Allah”, padahal tidak demikian halnya, melainkan panggilan atau perkataannya itu akan kembali kepada dirinya”.[HR Muslim]

Lihat bagaimana Allah dan RasulNya melarang kita mengKafirkan sesama Muslim. Sekedar mengucapkan salam saja sudah cukup membuat kita berhati2. Ini orang kafir apa bukan? Apalagi jika orang tsb sholat.

“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu pergi (berperang) di jalan Allah, maka telitilah dan janganlah kamu mengatakan kepada orang yang mengucapkan “salam” kepadamu (atau mengucapkan Tahlil): “Kamu bukan seorang mukmin” (lalu kamu membunuhnya)..” [An Nisaa’ 94]
Tiga perkara berasal dari iman: (1) Tidak mengkafirkan orang yang mengucapkan “Laailaaha illallah” karena suatu dosa yang dilakukannya atau mengeluarkannya dari Islam karena sesuatu perbuatan; (2) Jihad akan terus berlangsung semenjak Allah mengutusku sampai pada saat yang terakhir dari umat ini memerangi Dajjal tidak dapat dirubah oleh kezaliman seorang zalim atau keadilan seorang yang adil; (3) Beriman kepada takdir-takdir. (HR. Abu Dawud)

Jangan mengkafirkan orang yang shalat karena perbuatan dosanya meskipun (pada kenyataannya) mereka melakukan dosa besar. Shalatlah di belakang tiap imam dan berjihadlah bersama tiap penguasa. (HR. Ath-Thabrani)
Rosululloh saw., bersabda:Barang siapa yang sholat sebagaimana kami sholat, menghadap ke kiblat kami dan memakan sembelihan kami maka ia muslim.” (Hadits ini diriwayatkan oleh Al-Bukhori no. 391)



Baca selengkapnya di: http://media-islam.or.id/2011/10/26/jangan-mudah-mengkafirkan-sesama-muslim/

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar